Senin, 02 Maret 2015

Berikut beberapa jenis hantu yang perlu sahabat SC ketahui....

Orowodol


Orowodol 


Hantu atau jurig orowodol pada awalnya akan menampakan wujud yang kecil seukuran anak ayam, dan berbentuk seperti batu dan apabila kita menyentuh, tersandung atau menendangnya, baik disengaja ataupun tidak maka dia akan berubah wujud dan membesar, semakin disentuh akan semakin membesar pula sampai beberapa kali,sehingga matanya, hidungnya dan mulutnya akan semakin jelas terlihat, dan setelah mencapai ukuran tertentu, dia akan memakan atau menelan orang yang tak sengaja menyentuhnya.

Dan bahayanya dia akan terus mengejar anda kemanapun anda pergi, dia mengejar anda seperti bola salju yang menggelinding, semakin besar, besar dan besar, hingga akhirnya anda ditelannya bulat-bulat.

Jika anda bertemu hantu jenis ini sebaiknya tinggalkan saja lantaran hantu ini teramat sangat, sangat berbahaya. dan jika anda tidak sengaja menyentuhnya, usahakan jangan pernah menyentuhnya lagi apalagi sampai berulang-ulang kali.

Kuntilanak

Kuntilanak 

Kuntilanak atau biasa disebut kunti dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anaknya belum sempat lahir atau ikut mati didalam kandungan.

Kuntilanak berwujud seorang perempuan, biasanya hantu ini memakai baju putih rambut panjang dan sering mengeluarkan suara tawa yang sangat menakutkan sering duduk di atas pohon atau di mana saja lantaran hantu ini sangat pandai terbang atau jika kita mendengar suara anak ayam di tengah malam biasanya itu merupakan suara kunti.

Kalau ketemu hantu jenis ini, kita gak usah panik, karena hantu ini tidaklah berbahaya, karena kalau panik justru kita akan celaka oleh tingkah kita sendiri, kuntilanak hanya bisa menggoda dan menakut-nakuti saja

Pocong

Pocong 

Hantu pocong berasal dari orang mati yang lupa dibuka ikatan kafannya saat dia dikubur, pocong sering digambarkan bergerak melompat-lompat, Pada kenyataannya pocong bergerak melayang-layang. Hal ini bisa dimaklumi, sebab di film-film, pemeran pocong tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga berjalannya harus melompat-lompat. Keadaan ini pula yang menimbulkan suatu pernyataan yang biasa dipakai untuk membedakan pocong asli dan pocong palsu di masyarakat

Pocong menampakan wujudnya dengan memakai pakaian layaknya pakaian yang di kenakan pada orang yang meninggal dunia yaitu memakai kain kafan yang di ikat di bawah kaki dan bagian atas kepalanya makanya orang menamai hantu ini dengan sebutan hantu pocong lantaran pakaian yang dikenakannya menyerupai pakaian kain kafan yang di pocongkan pada orang yang telah meninggal dunia.

Jika kita bertemu dengan pocong biasanya si pocong akan meminta bantuan kepada kita untuk membuka tali kafannya, dan konon katanya, jika kita mempunyai nyali dan berani menolong si pocong maka kita bisa memiliki tali kafannya yang memiliki kekuatan-kekuatan tertentu. 

Hantu jenis ini cukup berbahaya jika dia menyemburkan cairan berbau bangkai busuk di dalam mulutnya, karena kalau cairan itu mengenai tubuh kita maka aroma bau busuknya tidak akan pernah hilang untuk selamanya, kecuali kita melakukan ritual-ritual khusus

Kelong wewe / Wewe Gombel

Kelongwewe 

Kelong wewe atau wewe gombel adalah hantu yang suka menculik anak-anak, tapi tidak mencelakainya. Konon anak yang diculik biasanya anak-anak yang sering dibiarkan berkeliaran di malam hari dan dibiarkan dan diabaikan oleh orang tuanya. Wewe Gombel biasanya akan menakut-nakuti orang tua si anak atas sikap dan perlakuannya kepada anaknya sampai mereka sadar. Jika mereka orang tuanya telah sadar, Wewe Gombel akan mengembalikan anaknya. 

Wewe gombel berwujud perempuan dengan payudaranya yang sangat besar hingga mencapai bagian pinggangnya dan membuat seram bagi siapa saja yang melihatnya. tapi pada dasarnya hantu ini adalah hantu baik, meskipun dia menculik anak-anak, tapi dia memperlakukan anak itu layaknya seorang ibu pada anaknya, namun yang mengerikan adalah makanan yang dia berikan pada si anak, konon katanya makanan itu terbuat dari hewan-hewan yang menjijikan seperti ulat yang kemudian ia sihir jadi makanan lezat dan nikmat.

Genderuwo

Genderuwo 

Genderuwo atau Genderuwa dipercaya dapat berkomunikasi dan melakukan kontak langsung dengan manusia. Berbagai legenda menyebutkan bahwa genderuwo dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seorang manusia untuk menggoda sesama manusia. 

Genderuwo dipercaya sebagai sosok makhluk yang iseng dan cabul, karena kegemarannya menggoda manusia terutama kaum perempuan dan anak-anak. Genderuwo kadang senang menepuk pantat perempuan, mengelus tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain. 

Kadang genderuwo muncul dalam wujud makhluk kecil berbulu yang bisa tumbuh membesar dalam sekejap, genderuwo juga gemar melempari rumah orang dengan batu kerikil di malam hari. Salah satu kegemaran genderuwo yang paling utama adalah menggoda istri-istri kesepian yang ditinggal suami atau para janda, bahkan kadang genderuwo bisa sampai melakukan hubungan seksual dengan mereka. Dipercaya bahwa benih daripada genderuwo dapat menyebabkan seorang wanita menjadi hamil dan memiliki keturunan dari genderuwo. 

Menurut legenda, genderuwo memiliki kemampuan gendam untuk menarik wanita agar mau bersetubuh dengannya. Kemampuan hubungan seks genderuwo juga diyakini amat luar biasa, sehingga wanita-wanita korban pencabulannya seringkali merasakan puas dan nikmat yang luar biasa apabila berhubungan badan dengan genderuwo. 

Namun biasanya wanita korban yang disetubuhi oleh genderuwo tidak akan sadar sedang bersetubuh dengan genderuwo karena genderuwo akan menyamar sebagai suami atau kekasih korban dalam melakukan hubungan seks. Disebutkan pula kalau genderuwo memiliki libido dan gairah seksual yang besar dan jauh di atas manusia, sehingga ia amat mudah terangsang melihat kemolekan perempuan dan membuatnya menjadi makhluk yang senang menggoda perempuan.

Kemangmang / kamangmang

Kemangmang 

Berbeda dengan jenis hantu lain yang punya karakter dan bentuk penampakkannya menyerupai fisik manusia, Wujud Kemangmang disebutkan berupa sosok katak air dalam ukuran jumbo. Setidaknya, kepercayaan semacam ini tumbuh subur di kalangan masyarakat Pantura, Jawa Barat, khususnya di daerah Indramayu dan sekitarnya.

Selain ukurannya ratusan kali lipat dari ukuran katak air atau Bangkong biasa yang hanya sekepalan tangan orang dewasa, pada bagian antara kepala dengan punggung, atau persisnya di sekitar tengkuk Kemangmang, akan muncul api yang berkobar-kobar. Api pada tengkuk Kemangmang ini bukan halusinasi ataupun hanya api fatamorgana, melainkan api yang sanggup membakar kayu-kayu kering. Konon dengan sebab ini, di sejumlah lokasi rawa-rawa dan pertambakan di wilayah Pantai Utara Jawa Barat, kerap terjadi insiden kebakaran hutan mangrove (bakau). Banyak yang menduga kebakaran ini akibat ulah Kemangmang.

Uniknya lagi, api pada tengkuk Kemangmang ini tidak akan padam walau terkena air sekalipun. Tiap kali muncul ke permukaan air rawa, scara spontanitas api pada tengkuknya akan berkobar-kobar.

Sama seperti makhluk gaib pada umumnya, hantu berwujud katak raksasa ini tidak pernah berani muncul pada siang hari. Kemangmang hanya melakukan penampakkan pada malam hari, khusus di sekitar areal rawa yang jauh dari pemukiman. Karena keganasannya yang dapat membinasakan manusia akibat kobaran apinya, tak heran bila berpuluh-puluh tahun silam, keberadaan Kemangmang menjadi momok menakutkan.

Jurig Trek-trek

Jurig Trek-tek 

Jurig Trek-trek adalah hantu yang pendendam, kenapa demikian?.. karena jika ada orang iseng mengetuk-ngetuk benda seperti meja dan lain-lain di siang hari yang mengganggu istirahat sang hantu (hantu tidurnya siang) maka malam harinya dia pasti balas dendam untuk mengganggu dengan cara yang sama yaitu mengetuk-ngetuk meja maupun pintu rumah kita dengan suara yang sangat keras sekali. nama jurig trek-trek sendiri diambil dari bunyi "trek-trek" yang dihasilkan dari benda yang diketuk-ketuk.

Tetapi hantu jenis ini tidak menampakan wujudnya hanya mengeluarkan atau mengikuti ketukan-ketukan yang kita lakukan di siang hari, namun fenomena hantu jurig trek-tek atau jurig trok-trok ini jarang diketemukan di jaman sekarang.

Tuyul

Tuyul 

Tuyul dipercaya berasal dari janin orang yang keguguran atau bayi yang mati ketika lahir. Karena berasal dari bayi, karakter tuyul juga seperti anak-anak: gemar bermain (seperti laporan orang melihat sejumlah tuyul bermain pada tengah malam, dsb.). Kemungkinan besar tuyul juga sejenis alien..

Wujud tuyul ini menyerupai anak kecil yang berkepala botak serta bersuara seperti anak ayam. Tuyul dapat dipekerjakan oleh seorang majikan manusia untuk alasan tertentu, terutama mencuri (uang).

Kuyang

Kuyang 

Kuyang adalah hantu yang berwujud kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit dan anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi atau darah wanita yang habis melahirkan. Makhluk ini dikenal masyarakat di Kalimantan. Kuyang sebenarnya adalah manusia (wanita) yang menuntut ajaran ilmu hitam untuk mencapai kehidupan abadi. 

Pada siang hari, seorang kuyang akan menempuh hidup sehari-hari sebagaimana orang biasa, namun biasanya ia mengenakan pakaian jubah. Pada malam hari kuyang akan terbang untuk mencari darah bayi atau darah persalinan untuk dihisap sebagai sarana menambah kekuatan ilmunya. Orang yang melihat kuyang terbang biasanya melihatnya seperti burung besar. 

Untuk menghadapinya korban perlu menggunakan sapu ijuk atau memukulkan perabot rumah tangga seperti panci atau wajan.

Untuk sementara cukup segitu dulu aja, semoga kita terhindar dari gangguan hantu-hantu tersebut. berhubung masih banyak jenis hantu lain yang ada di indonesia. untuk jenis hantu lainnya akan kita bahas di postingan mendatang

ada yang kenal dengan boneka horror ini kan ? yaa menyeramkan sekali bukan ? ini adalah 10 boneka horror yang terseram didunia










Misteri Bis dan Seorang Perempuan

Ku langkahkan kaki dengan cepat. Segera kutuju halte bis yang terletak di perempatan jalan. Gerimis rintik-rintik yang semakin besar membuatku segera mempercepat langkah. Jalanan kini telah sepi lagang, tidak ada satupun kendaraan lewat. Entahlah apa yang terjadi. Mungkin karena malam yang semakin larut disertai hujan deras. Ku lihat jam yang melingkar di tangan, sudah jam 23.50. Sepuluh menit kemudian, tepat pukul 00.00, sebuah Bis berhenti di depanku. Tanpa rasa curiga, aku segera naik ke dalam bis, karena malam semakin larut dan dingin yang tak tertahankan. Aku ingin segera sampai kos, dan buru-buru istirahat, apalagi besok pagi aku ada jadwal kuliah pagi. Ah, ini baru pertama kalinya aku harus lembur sampai selarut ini.
Ku lihat di dalam bis, tak ada seorang pun. Semua tempat duduk kosong. Eh, tapi, tunggu dulu.. Aku menyipitkan mata, agar bisa jelas melihat dengan jelas. Di bangku pojok paling belakang, ada seorang perempuan dengan kepala tertunduk. Tapi aku tidak merasakan hal aneh, mungkin perempuan itu sedang tidur karena kecapekan. Ku putuskan segera duduk di bangku tengah dan menyandarkan kepalaku ke jendela bis. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang sangat, bulu kuduk berdiri. Lampu dalam bis itu mati. Dan.. Wushhh. Aku terperanjat. Apa itu yang barusan lewat? Ku alihkan pandangan ke bangku belakang, ingin melihat perempuan yang tadi duduk dengan menunduk. Namun nihil, aku tak bisa melihatnya. Di luar bis pun terlihat sangat gelap sekali.
Beberapa menit kemudan lampu kembali menyala, dan bis berhenti. “Mbak, sudah sampai.” Kata supir dengan nada dingin. Aku terhenyak, dari mana supir ini tahu kalau aku berhenti disini, seingatku aku tidak bilang apapun tadi. Tapi, aku turun saja. Aku kasihkan uang dua lembar lima ribuan. Supir itu menerimanya tanpa menoleh sedikitpun. Aku tidak bisa melihatnya karena dia memakai topi, ditambah lagi kepalanya menunduk. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Ingin melihat perempuan yang tadi. Namun tidak ada. Sudahlah, aku turun saja, walaupun dalam pikiranku ada beribu-ribu pertanyaan yang membingungkanku.
Sesudah aku turun, dengan iseng aku lihat ke belakang. Kemana bis itu, kenapa tiba-tiba tidak ada. Masak iya bis itu melaju kencang. Tapi kalau pun bisnya melaju kencang, setidaknya masih terlihat jelas, karena jalan raya di depan kosku lurus, tak ada belokan. Aku pun segera masuk ke kos dengan berlari. Bukk. “Aduhh.” “Neng Dina, kenapa neng lari-lari, kaya ketakutan gitu..” Ah, sukurlah, itu Mang Asep. Penjaga kos disini. “Tidak apa-apa kok mang. Ya sudah, aku masuk dulu ya mang.” “Iya neng.”
Huh, dasar si bos, masak aku harus lembur lagi. Lagi-lagi aku pulang seperti kemarin. Namun kali ini tidak ada hujan deras. Di jalan pun masih ada kendaraan walau jarang. Tepat pukul 00.00, Bis itu datang lagi. Sebenarnya aku tidak mau naik bis ini lagi, takut kejadian kemarin terulang lagi. Tapi apa daya, malam sudah sangat larut. Aku hanya bisa pasrah. Lagi-lagi lampunya mati, dan ketakutanku terjadi. Wusshh. Aku hanya menutup mata, dan bus itu berhenti. Aku segera turun, dan berlari menuju kos. Segera kurebahkan badan yang sangat lelah ini di kasur kamarku. Baru saja terlelap dalam nikmatnya tidur, tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis di ruang bawah. Seketika juga aku penasaran sekaligus merinding. Jantungku berdegup lebih kencang. Suara siapa itu. Kenapa menggangguku di tengah malam ini. Kulihat jam di dinding kamar. Jam 01.00. Apa aku harus mengeceknya ke ruang bawah itu? Tapi, mang Asep melarangku membuka ruang bawah. Sebenarnya apa yang terjadi.
Ku ketuk pintu Lisa di sebelah kamarku. Karena tak ada jawaban, langsung saja membuka pintunya. Ku bangunkan Lisa yang tertidur pulas dengan menggoncangkan tubuhnya. Lisa bangun dan mengucek-ngucek matanya. “Ada apa sih Din, ngantuk tau!” “Lis, kamu denger suara cewek nangis gak?” Lisa pun terdiam dan menajamkan kupingnya. “Ah, kamu itu berhalusinasi aja.. gak ada gitu.. udah ah, aku mau tidur. Ngantuk!” “Lis, aku tidur disini ya.” Lisa hanya menarik selimutnya dan meneruskan tidur. Aku ikut berbaring di sebelah Lisa. Suara tangisan itu terdengar lagi. Tapi aku tak mempedulikannya. Lebih baik aku pejamkan mata saja.
Ini adalah hari ke tujuh aku disuruh lembur lagi sama si bos. Sebenarnya aku enggan, tapi karena kepepet, akhirnya aku iya kan saja. Setelah pulang, aku telepon Lisa. Ku suruh dia menjemputkku. Aku tak mau lagi naik bis aneh itu. Bagiku itu adalah hal misteri yang benar-benar membuatku bisa-bisa mati berdiri. Segera ku telepon Lisa. Tak diangkat. Kucoba beberapa kali. Ah.. kenapa dia tak mengangkatnya, padahal tadi dia berjanji mau menjemputku pulang. Ku telepon Riri, teman se kos juga. Tidak aktif. Kenapa dengan orang-orang ini. Bis itu berhenti lagi di depanku. Apa yang harus kuperbuat? Aku sangat bingung. Tiba-tiba pintu bis terbuka. Di balik pintu itu ada seorang perempuan cantik dan tersenyum padaku. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku agar segera masuk. Dan entah kenapa, aku menuruti perintah dia. Aku pun segera naik. Dia duduk di sebelahku. Namun tak lama kemudian, aku merasa hawa sekitar sangat dingin, sampai menusuk tulang. Bulu kudukku ikut berdiri. Merinding. Perempuan di sebelahku tiba-tiba menangis pilu. Aku teringat dengan kejadian aneh di kos, karena suaranya sama persis. Aku menoleh dengan perlahan untuk memastikan apakah perempuan ini benar-benar orang, atau… HAH.. aku terlonjak kaget saat dia melihatku tajam. Dia menangis darah, wajahnya sangat pucat. Aku berlari menuju supir, dan meminta untuk berhenti. Tapi anehnya, supir itu seperti tidak mendengar suaraku. Padahal aku sudah berteriak minta berhenti. Ku goncangkan tubuhnya. Lagi-lagi aku terlonjak kaget saat supir itu menoleh ke arahku. Wajahnya sudah rusak dan agak hitam legam. Matanya berlubang satu. Aku dengan sigap lari menuju pintu bis, untunglah pintunya tidak tertutup, aku meloncat. Tubuhku terguling-guling di atas aspal. Tapi aku tak peduli, aku segera bangkit dan berlari. Tiiiit… tiiiiiit… Ckiiiit.. HAH.. Aku berdiri ketakutan di depan sepeda motor yang hampir saja menabrakku. “Dinaa.. kamu kenapa..” Kulihat orang yang menyebut namaku. Ternyata dia adalah Rizki, teman kuliahku. Aku langsung berhambur padanya, dan duduk di belakang Rizki dengan badan gemetar. Rizki masih terheran-heran melihatku. “To.. tolong an..ta..r.. ak.. u.. pu…lang.” kataku dengan gugup dan nafas yang masih tersengal. Tanpa bertanya lebih lanjut, Rizki mulai menjalankan maticnya.
Setelah sampai kos, Rizki mengantarku ke kamar dan membuatkan aku teh hangat. “Minum dulu biar tenang.” Aku pun segera meminumnya. Dalam hitungan detik, teh itu langsung habis. “Sebenarnya apa yang terjadi Din, kenapa tadi kamu tiba-tiba ada di tengah jalan, tengah malam lagi.” Aku masih terdiam. “Tangan kamu juga kenapa, kok berdarah gini. Kamu jatuh?” Aku menggeleng cepat. “Trus kenapa?” “Rizki, emm…” “Iya?” “Akuu.. takuut.” “Takut kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” Aku menggeleng lagi. “Kenapa? Cerita aja. Kita kan udah deket. Ya kalau kamu gak cerita sekarang juga gak apa-apa sih. Besok kamu bisa cerita di kampus.” “Tapi, kamu habis dari mana ki, kok tengah malam gini kelayapan?” “Hahaha.. Dinaa Dina, aku gak kelayapan, tadi habis nganter si Tyo pulang, biasalah, maen di rumahku. Eh ya, aku balik dulu ya. Udah jam berapa ni, gak enak diliat tetangga. Kamu gak apa-apa kan sendiri.” “Iya gak apa-apa. Makasih ya udah mau anter pulang. Lagian udah ada Lisa sama Riri kok.” “iya udah deh.. sukur kalo ada temennya. Aku pulang dulu ya, sampe ketemu di kampus. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumus salam.” Rizki meninggalkanku. Aku segera beranjak ke kamar sebelah. Menemui Lisa. Ku buka pintunya tanpa kuketuk. Namun, tiba-tiba bau amis meggelitik hidungku. Aaaaaaaaa.
Ada yang memegang bahuku. Ku tepis tangan itu, “Din, ada apa, kenapa kamu teriak?” “Rizki, ka.. kamu belum pulang.” “Tadi aku denger kamu teriak, makannya aku balik.” Aku menunjuk telunjukku ke dalam kamar Lisa. Ku lihat wajah Rizki menjadi pucat. “A.. ku telepon polisi. Ka .. kamu tenang ya Din.” Aku hanya bisa menangis pasrah. Tiba-tiba ku teringat Riri. Dimana dia.. aku segera ke kamarnya. Ku buka pintunya. Kulihat Riri sedang tidur pulas. Segera ku goncangkan tubuhnya. “Riii, bangun Ri.. Ririii.. Banguunn.” Ia menggeliat. “ada apa sih?” Tanyanya. Setelah ku menceritakan tentang Lisa, ia terlonjak kaget dan segera berlari ke kamar Lisa. Riri memelukku dan menangis sambil berteriak memanggil Lisa. Tak lama kemudian, polisi dan pihak rumah sakit datang. Mereka segera mengurus kejadian itu. Aku, Rizki dan Riri ikut mereka.
Aku masih terdiam di depan makamnya Lisa. Rizki mencoba menghiburku. Sedangkan Riri, kata mang Asep, pulang ke rumahnya sendiri di Jakarta. Mungkin dia masih shock melihat keadaan Lisa yang terbunuh. Hal ini lah yang membuatku penasaran. Siapa yang tega membunuh temanku. Rizki mengajakku pulang. Kutinggalkan Lisa sendirian di dalam tanah yang menggunduk. Ketika di gerbang, entah ada kekuatan apa tiba-tiba aku ingin menolehkan pandanganku ke dalam makam. Kulihat disana ada Lisa sedang duduk dan tersenyum padaku. Kubalaskan senyumku padanya. Dia pun menghilang. Aku segera pulang diantar Rizki.
Di kos hari ini sangat sepi. Tidak ada lagi suara tawa keras Lisa dan sikap konyol Riri. Segera kuhubungi Riri. Ku ingin bertanya padanya, kapan dia mau balik ke kos. Tidak aktif. Hingga malam itu… Terdengar lagi suara tangis. Ah, cukup! Aku sudah bosan dengan suara tangisan itu. Ku beranikan diri untuk melihat ke ruang bawah, dekat gudang. Meskipun agak merinding, tapi apa boleh buat. Ku buka pintu perlahan-lahan. Tidak dikunci. Kulihat ruangan itu. Bau busuk menyeruak di hidungku. Ya ampun! Perempuan itu, yang ada di bis kemarin. Perempuan itu menoleh padaku. Rasa dingin menyelimutiku, tentu saja dengan bulu kuduk yang berdiri. Glekk. Dengan susah aku menelan ludah. Pahit. Perempuan itu mendekat kepadaku. Aku hanya bisa diam, rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Tok tok tok.. Sepertinya ada suara ketukan pintu. Kuturunkan tanganku dan kubuka mataku dengan perlahan-lahan. Perempuan itu sudah tidak ada. Kemudian terdengar suara lirih. “Kamu harus pergi dari sini. Orang itu menuju kesini.” Aku tak mengerti apa maksudnya. Siapa orang itu? Siapa yang mau datang kesini? Tok tok tok.. Terdengar lagi suara ketukan pintu.
Aku segera menuju ke depan. Kubuka pintu. “maaf neng Dina, ada yang ketinggalan.” “Oh, mang Asep. Ketinggalan? Apanya yang ketinggalan?” “Kunci neng. Deket ruang bawah. Bisa tolong diambilin gak?” “Oh ya sudah.” Segera ku kembali ke tempat tadi. Tapi kemudian suara itu terdengar lagi, “Cepat pergi dari sini. Cepat pergi dari sini.” Tiba-tiba mang Asep datang menghampiriku dengan membawa pisau mengkilat di tangannya. Raut wajahnya telah berbeda. Agak menyeramkan dan seolah-olah dia benci melihatku. “Aku sudah bilang! Jangan pernah membuka ruang bawah. Kenapa kamu masih saja membukanya, hah!” Katanya sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang pisau. “Ta.. tapi, aku penasaran mang. Ada suara tangisan.” Kataku sambil melangkah mundur karena ketakutan. Ia tidak menjawab, ayunan pisaunyalah yang menjawab pembicaraanku barusan. Aku segera membalikkan badan dan berlari menuju pintu depan, hendak keluar. Ah, sial. Terkunci. “Mau kemana kamu, hah!” Aku melihat ke belakang, dia tersenyum menakutkan. “Mang.. mang Asep kenapa mau membunuh saya? Apa jangan-jangan mang Asep juga yang telah membunuh Lisa?” “Hahaha.. Dasar bodoh. Tentu saja aku yang telah membunuh Lisa! Kamu kira perampok yang membunuhnya?” katanya dengan garang. “Kenapa mang Asep ngelakuin itu semua? Apa salahku, apa salah Lisa? Kenapa mang Asep tega?” “Ah! Sudah diam! Banyak omong kamu mah!” Mataku melihat ada payung di sebelah pintu. Segera ku ambil dan kupukulkan ke tangan dan kepalanya. Pisau yang dipegangnya terjatuh. “Kurang ajar!” Ini kesempatanku untuk lari, saat dia mengambil pisaunya di bawah kursi. Segera kututup dan mengunci pintu kamarku. Kenapa aku mencium bau aneh? Segera ku putarkan pandanganku melihat sekeliling kamar. Eh, tapi ternyata ini bukan kamarku, ini kamar Riri. Mataku melihat ada darah yang berceceran dari kasur sampai ke lemari. Ku buka pintu lemari. Hah! Ririiii… Aku terduduk dan tergolek lemas di lantai. Tubuh Riri terbujur kaku di dalam lemari dengan pisau yang menancap di perutnya. Tok tok tok.. “Heh, buka pintunya! Dina, cepat buka!” Aku segera bangkit dengan keadaan bingung. Kuraih handphone Riri yang tergeletak di meja. Kunyalakan dan segera kupencet nomor Rizki. “Assalamu’alaikum, halo?” “Ha.. Halo, Riz.. Rizki.. ini aku, Dina.” “Iya, ada apa Din..” “Tolong aku Ki. Aku takut, aku mau dibunuh.” “Apa? Sekarang kamu dimana?” “Aku di kos, di kamar Riri. Tolong aku ki.” “Oke oke, kamu tenang ya, aku segera kesitu sama polisi..” Brakk pintu terbuka. “Hahaha, mau lari kemana kamu Dina?” Sementara di seberang telepon, Rizki masih berbicara. “Halo.. Halo.. Din, Dina..”
Segera ku lempar buku-buku Riri ke arah mang Asep. Mang Asep kelimpungan. Dan tepat saat aku melempar penggaris patah, ujung penggaris itu menusuk matanya. Aaaaaarrrgghhh. Teriaknya. Segera aku berlari lewat jendela yang telah ku pecahkan. Kress.. Aduh, tanganku tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar. Aku tak menyangka, mang Asep masih kuat mengejarku. Aku berlari menuju pagar. Ah, ternyata pagarnya juga sudah dikunci. Ku obrak-obrak pagarnya, tiba-tiba aku merasakan ada tubuh yang menyatu dengan tubuhku. Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Mataku merah menyala. Segera ku hampiri mang Asep dengan dendam. Ku raih kerah bajunya dan ku angkat tubuhnya, lalu kubanting. Mang Asep melemparkan pisaunya ke arahku, namun aku berhasil menghindar. Pisau itu tertancap di pohon dekat pagar.
Rizki dan 4 orang polisi datang. Dua orang polisi meringkus mang Asep, dua polisi dan Rizki menghampiriku.. “Din, kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir banget… Din, kamu kenapa diam saja? Kenapa tanganmu dingin.” Aku menoleh ke arahnya tajam, sambil berkata dengan lantang, “Mang Asep dan temannya telah membunuhkuu. Mereka memperk*saku di bis saat tengah malam, setelah mereka puas, aku dibunuhnya dan dibawa ke ruang bawah di rumah ini. Teman mang Asep membunuh supir bis dan membakar bis itu, tapi untunglah, orang keji itu juga ikut terbakar. Sekarang kamu cek ke dalam dan lihatlah di ruang bawah itu!” Tiba-tiba aku merasa tubuh itu keluar dari tubuhku. Aku tergolek lemas. “Dina.” “Rizki, ayo kita ke dalam. Kuburkan mayat perempuan itu dan Riri.” Kataku dengan suara bergetar. “Apa? Bukannya Riri pulang ke Jakarta?” Aku menggeleng dan mengajaknya ke dalam. Setelah semua diperiksa dan diamankan, mayat-mayat itu dikubur secara layak. Besok aku berniat untuk pindah kos ke tempat yang lebih ramai dari sebelumnya.
Dalam dua hari, aku telah kehilangan dua teman terbaikku sekaligus. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Setelah mendo’akan Lisa dan Riri, segera kulangkahkan kaki, ditemani Rizki. Ku lihat kembali ke belakang, Ada Lisa dan Riri tersenyum ke arahku. Semoga kalian tenang disana. Aku kan selalu mendo’akan kalian teman.

My Horror Story

2 february, tahun 2011. Dimulainya liburan musim panas, saat itu, aurell, olivia, athalla, randi, hima, syara dan reyhana akan liburan musim panas, kami akan menentukan tempat berlibur yang paling nyaman untuk dipakai menjadi tempat berkemah.
“kira kira nanti kita liiburan kemana yes?” kata aurell.
“eh gimana kalau ke mall!” kata olivia.
“wah oliv ngaco nieh! Mana ada berkemah di mall..” kata randy.
Semua tertawa terbahak bahak.
“ya udah! Gimana kalo ke bukit angker yang katanya ada penghuninya!” kata reyhana.
“ihhh sereeem gak mau ah! Kita kan masih sd kelas 3! Kok diajak ke situ sih!!!” kata hima dan olivia.
“namanya sih memang bukit angker, tapi tempatnya gak angker…” kata aurellia.
“iya… Bener tuh, jadi kalian gak boleh takut gitu, kaya pecundang tau gak” kata athalla.
“ta… Tapi kalau ada apa apa jangan nyalahin kami!” kata hima.
Kami semua pun hendak pergi, pergi naik mobil syahra. Mobil syahra menabrak sesuatu, kami langsung saja rela mengeceknya, mobil syahra menabrak anak kucing! Semua terkejut, “wah anak kucing!!! Kenapa ia bisa tertabrak! Padahal tadi tidak ada kucing!” kata olivia.
“kalau ada kucing tertabrak, itu pasti pertanda buruk!” kata aurell ketakutan.
“lalu kenapa setiap liburan musim panas kita harus terus menjalani ini!” kata syahra.
“apa mungkin kita dikutuk untuk ini ya?” kata athalla.
“eh athalla! Jangan asal asalan ngomong!” kata aurellia.
Kami pun meneruskan perjalanan, siang berganti malam, saat aurell tidur, ia meliat ada bayangan hitam berbaju putih, aurell berteriak sampai teman temannya bangun. “aurell! Ada apa sih! Beriik banget ih what are you doing?” kata reyhana.
“tadi.. Tadi itu..”.
“tadi apa? Udah deh! Buruan tidur rel! Kamu nanti terlambat bangun loh!” kata olivia menyela obrolan aurell. Aurell pun kembali tidur, tiba tiba! Bug!!! Tenda seperti ditendang tendang, semua berteriak “aaaaakkkhhh”.
“i… Itu apa ya tadi uuuhhuuuhhh” kata olivia terengah engah ketakutan.
“kan kata aku juga apa! Pertanda buruk…” kata aurell menghembus nafas.
“lalu kita harus apa?” kata randy dan reyhana.
“udah lah gak usah dipikirin, besok juga paling paling kita pulang kan” kata athalla.
“iya, tapi kita udah terlalu takut kamu tuh yaaa…” kata aurell.
“ya mau gimana lagi? Kalian kan anak perempuan penakut” kata athalla dan randi.
“bukan gitu, ini kejadian sungguhan!” kata hima.
Mereka pun mengikuti nasehat anak laki laki, mereka kembali tidur menahan rasa takut, malam menjelang subuh, aurell melihat teman temanya masih tertidur, aurell hendak ingin membangunkannya, tapi dia tak tega, jadi ia mandi ke sungai sendiri saja, cuuur air dituangkannya ke ember, dia pun segera mandi, setelah ia mandi, ia melihat ada sosok putih di kaca, aurel berteriak lagi, “aaaaaa!!! Toooloooog!!!!” kata aurell membangunkan rey yang sedang enak enakan tidur
Rey khawatir, rey lalu menghampiri aurel, rey melihat aurell tercekik oleh sosok nenek tua yang mukanya seperti mayat, “aaah?” kata reyhana sambil membaca al qur’an terus menerus, 8 menit, nenek itu pun menghilang. Aurell menangis sambil memeluk rey, “rey tolong aku, hiks hiks ua hua hua ua hua ua…” kata aurell sambil menangis.
“baiklah, aku percaya padamu, sudah tak apa apa ya…” kata reyhana.
“tapi… Tapi kan aku, takut!!” kata aurell lagi.
Semua terbangun, setelah selesai semua, baru mereka pulang ke rumah masing masing.

Restoran Tak Berpenghuni

Aku dan sekeluarga saat ini sedang liburan. Kami berkeliling di sebuah Desa. Di sana kami berfoto di sebuah sawah yang asri dan indah. Karena kepanasan, kami mencoba untuk beristirahat dulu di sebuah Restoran.
Tibanya di sana, kami menginjakkan kaki. Kami pun membuka pintu restoran itu. Di dalam terlihat kursi dan meja yang kotor. Terdapat pepohonan yang tumbuh di sana. Aku berpikir kalau restoran ini tak berpenghuni.
Adikku nampaknya asyik dengan mainan yang dibawanya, sedangkan orangtuaku terlihat cemberut.
Tokk.. tok… tok…suara ketukan terdengar dari jendela. Aku segera menoleh ke arah tersebut. Dengan cepat, aku melihat kalau ada sebuah sosok yang menyeramkan di balik jendela itu. “Ma! Pa! Ayo pergi dari sini!! Aku merasa takut di sini!!” sahutku sambil bercucuran air mata. Karena saking takutnya melihat sosok tersebut, kami pum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Di dalam mobil, kami berbincang-bincang dengan kejadian tadi. “Aku takut Ma! Aku takut.” Ucapku lirih, “Sudah tidak apa-apa, asalkan kamu tidak menganggu mereka! Tuhan pasti selalu melindungimu Nak!” Sahut Mama sambil mengelus rambutnya. Aku mengangguk pelan.
Hari ini memang hari yang tidak menyenangkan bagiku. Aku takut kalau aku dihantui olehnya. Aku pun mulai rajin memuja Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku percaya kalau Tuhan selalu melindungi kita asalkan kita berbuat baik.

Hanya Dunia Lain

Di sore hari, saat gue sedang berjalan ke pelosok desa terpencil di sebuah hutan jauh dari keramaian, gue lihat ada sebuah rumah tua yang menurut gue sudah gak layak huni, gak tau kenapa ada rasa yang mndorong gue buat ngelihat ke dalam, akhirnya gue gerakan kaki dengan melangkah perlahan, setelah di muka rumah, gue ketuk pintu dan memberi salam, 3 kali udah gue lakuin, tetapi gak ada jawaban, jadi gue pikir mungkin gak ada orang sepertinya di dalam.Lalu gue coba buat ngeberaniin diri untuk melihat ke dalam, gue buka pintu tua itu dengan agak sedikit takut, KREKOOOTTT!!!, begitu kira kira suara pintu yang dengan perlahan gue buka, gue lihat sekitar ruangan, begitu sepi, berantakan dan sedikit sarang laba laba di sudut sudut ruangan, juga Gue lihat ada 1 lukisan usang, yang bergambarkan seorang nenek yang sedang menenun kain, karena penasaran gue lanjutin melangkah lebih ke depan.

Gue jelajahi kamar satu persatu, tiba tiba kresss!!! Fuhhh, hanya bekas pecahan gelas kaca di lantai yang gue injak, bikin gue sedikit kaget, dan begitu gue masuk kekamar yang tengah, alangkah kagetnya gue ngelihat seorang perempuan memakai piama putih, berambut panjang dengan tatapan kosong ke arah gue, tapi kenapa gue cuma bisa diam saat itu, bulu kuduk pun merinding, dan kemudian gue baru sadar dan gue kaget, gue pun langsung lari terpingkal pingkal, bahkan sesekali sampai jatuh.
Gak terasa gue sudah jauh dari tempat itu, dengan nafas setengah mati, gue duduk di dekat pohon, gue sandarin badan gue ke pohon, gue tarik nafas dalam, gue tenangkan sejenak. karena gue lihat matahari sudah mulai tenggelam, gue lanjutin untuk berjalan pulang, Tapi tiba tiba, saat gue mulai melangkahkan kaki, gue ngelihat sebuah rumah itu lagi ada di depan gue, “HAHH!!!” Gue tercengang dan kaget lagi, alhasil gue berlari lagi, lari lebih jauh lagi, dan lagi lagi gue bertemu dengan rumah tua itu lagi, sepertinya gue hanya berlari di tempat itu itu saja.
Dengan bermandikan keringat yamg terus mengucur, gue ketakutan, gue kacau, gue kecapean, “arrrggghhh”. tubuh gue rasanya sudah kehabisan stamina, gue mulai lemas, dan gue juga mulai lapar.
Lagi tiba-tiba, sesosok nenek nenek muncul dari arah belakang gue, dengan wajah yang menyeramkan, sepintas gue lihat wajahnya mirip sama yang ada di lukisan. “UWAAA!!!” Kaget bukan kepalang, gue pun berlari lagi, tapi kali ini rasanya begitu berat, gue lihat ada sebuah sepeda ontel tua tahun 70an, ‘mungkin lebih baik gue ngdrive itu aja’ pikirku dalam hati.
Dengan kencang gue kayuh sepeda itu, na’as, saat itu ada turunan tajam, karena gak ada remnya, gue pun terjatuh tersungkur, karena gue menjatuhkan diri gue sendiri ke arah lain, dan sepedanya!, Sepedanya menabrak pohon besar, dan gak bisa lagi digunain, gue merintih kesakitan, tapi itu lebih baik menurut gue, yang penting gue sudah jauh dari rumah itu.
Hari udah mulai gelap, lagi, gue pun bergegas bangun dan berjalan… Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya gue berada di tepian jurang, ternyata gue tersesat, hanya menelan ludah dan dengan rasa lelah, lagi lagi, sepertinya ingin membuat diri gue menangis sesak…
Tiba tiba gue lihat di sekeliling, begitu banyak sekelompok buaya, yang perlahan mulai mendekati gue, gak tau harus kemana lagi dan berbuat apa, sedikit demi sedikit gue mundur, mundur dan mundur, bagai telur di ujung tanduk, ya begitulah kata pribahasa yang mewakili keadaan gue saat itu, gue bingung, akhirnya gue tergelincir, gue pun terjatuh… “Aaaaaaa”
BLEGG!!! Hmmmm lalu gue terbangun dan sadar, kalau ternyata gue jatuh dari tempat tidur,
Huhff miris…
Gerah, pengap, wajah dan rambut kusut… Gue pun langsung beristighfar, lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya, gue lihat jam di dinding, ternyata waktu sudah hampir magrib, gue baru terbangun dari tidur.
Jadi buat para pembaca , jangan tidur berlebihan apa lagi sampai mendekati waktu magrib, selain bisa menyebabkan mimpi buruk juga tidak baik. Dan Jangan lupa juga baca doa.
Wassalam…

Tragedi Bunuh Diri

Di bawah langit yang mulai redup, ketika senja hampir saja beranjak, seseorang dengan keputusasaannya berdiri di atas pagar pendek pembatas jembatan, ia berdiri mematung berpijak pada lempengan besi yang nyaris berkarat. Pakaiannya lusuh dan lembab, matanya mengatup, kulitnya pucat. Mulutnya berdesis, namun tak begitu jelas. Kedua tangannya membentang membentuk garis lurus. Dari gelagatnya, sejurus terlihat kepahitan hidup yang ia alami.
Tampaknya pemuda itu mulai menyerah, putus asa dan tak kuat hidup lebih lama lagi. Dia membuat sedikit gerakan, hendak melompat ke dalam lembah kecil yang riuh rendah oleh pepohonan. Namun tampak jelas di wajahnya masih tersirat sedikit keraguan.
Tiba-tiba seorang gadis muncul di keheningan, dengan perlahan gadis berpakaian hitam legam dan berambut terurai panjang itu mendekati pemuda yang hendak mengakhiri hidupnya, hingga mereka berjarak kira-kira semeter.
“Apa yang kamu lakukan di tempat ini?” gadis itu mulai mengeluarkan kata dari mulutnya, hingga membuatnya tersentak kaget.
“Siapa kamu?” ia balik bertanya.
“Apa yang ingin kamu lakukan di tempat ini?” Gadis itu kembali menegaskan pertanyaannya, terlihat wajah gadis itu lebih pucat dari sebelumnya.
“Bukan urusan kamu,” ucapnya gemetar.
“Aku tau ini bukan urusanku, tapi aku hanya berusaha. Apapun masalahmu, jangan kamu lakukan hal bodoh itu. Ini bukan cara yang baik untukmu,” ucap gadis itu dengan ekspresi wajahnya yang tetap datar.
“Aku nggak peduli kamu mau ngomong apa, tapi aku mohon menjauhlah dariku, biarkan aku pergi dari dunia ini, biarkan aku meninggalkan kekejaman hidup yang membekas dan tiada akhir ini.” Si pemuda gempar dan mulai menitikkan tetes-tetes air mata.
“Kamu pikir dunia setelah kamu mati, akan lebih baik apa?” Si gadis bertanya setengah berteriak, “dan kamu pikir Tuhan menyukai perbuatanmu itu, heh?”
“Justru dengan aku mati, aku bisa bertemu dengan Tuhan dan menjelaskan bahwa aku tidak bersalah, serta Tuhan akan menempatkan aku di tempat yang lebih layak, lebih indah daripada dunia ini yang begitu mencekam.” Si pemuda masih menangis, bahkan lebih deras dari yang sebelumnya.
Mata si gadis melotot padanya, “Sungguh ironis perkataanmu itu, Tuhan tidak pernah menjanjikan seperti apa yang kamu katakan tadi.” Gadis itu semakin geram padanya.
“Cukup!” pemuda itu mulai naik darah pada si gadis karena telah menghalang-halangi niatnya, “aku nggak tau siapa kamu, kamu pun nggak tau siapa aku. Jadi kamu nggak berhak melarang-larang aku. Asal kamu tau ya…! Aku itu nggak lebih dari seorang yang teraniaya.”
“Aku nggak ngelarang kamu, aku cuma mengingatkan, asal kamu tau juga ya! Kalau kamu sampai mati di tangan kamu sendiri, kamu akan lebih menderita, lebih dari apa yang kamu rasakan sekarang,” papar si gadis dengan nafas yang sedikit tersengal.
“Tau apa kamu tentang dunia setelah kematian, heh?” tanyanya sambil menghentikan air mata yang bercucuran. Namun gadis itu hanya membisu, diam seribu bahasa atas pertanyaan itu.
Lalu saat pemuda itu mengambil ancang-ancang untuk memulai aksinya, si gadis menjerit histeris. Seakan-akan ia tak rela si pemuda merenggut nyawa.
“Jangan lakukan itu…! Sungguh bukan aku yang melarangmu, karena sesungguhnya Tuhan yang melarang perbuatan itu. Bunuh diri adalah perbuatan tercela, Tuhan akan sangat membenci pada orang yang berputus asa, kamu akan sangat menyesal.” Kali ini gadis itu yang mulai menangis tersedu-sedu.
Ia menatap gadis itu yang mulai tersungkur, berlutut, dan terisak-isak. Sejenak, pemuda itu hanya diam dan keheranan. Lalu entah apa yang ada di pikirannya, pemuda itu mulai mengurungi niatnya, perlahan kakinya menginjak lempengan besi yang lebih redah, dan tak lama pemuda itu turun dari pagar dengan sempurna, namun lagi-lagi pemuda itu hanya diam, dan menatap si gadis kaku.
Dengan perasaan gamang, pemuda itu perlahan menghampiri gadis yang masih terisak dan wajah yang tertutup oleh rambut panjangnya.
“Siapa kamu?” pemuda itu bertanya lirih, “kenapa kamu begitu peduli terhadapku…? Kenapa kamu menangis…?” Namun hingga beberapa detik kemudian, gadis itu tetap bergeming.
Karena ia penasaran, akhirnya tangannya tergerak, hendak menyentuh tubuh pucat gadis itu. Ia sangat menyesal dan ingin berterima kasih. Namun saat pemuda itu mencoba memegang bahu si gadis, ia hanya merasakan adanya hawa dingin, ia hanya menerka angin, tak bisa menggapai tubuh si gadis lalu tak lama tubuh itu mulai memudar, dan semakin memudar, serta isakan tangis itu ikut lenyap, meninggalkan tanya. Pemuda itu tercengang, karena sekarang di jembatan itu tak ada siapapun selain dirinya.
Kemudian, cakrawala semakin gelap, diiringi nyanyian burung hantu yang menyeramkan.
Suasana di jembatan tua itu masih seperti biasa, sunyi, sepi, kelam dan mencekam. Dari arah timur terpendar sinar mentari yang tertutup oleh rerimbunan pohon. Sesekali burung melintas dengan sedikit enggan.
Tiba-tiba terdengar jeritan seorang anak perempuan yang semakin lama suara itu semakin jelas, membuat keheningan pecah seketika. Kemudian anak itu muncul dari kabut yang mulai menipis, sambil mengacak-acak rambutnya, ia menjerit semakin menjadi-jadi.
Anak itu hendak melakukan hal yang serupa seperti yang dilakukan oleh seorang pemuda tempo hari. Tanpa berpikir panjang dan bertele-tele anak perempuan itu langsung menaiki pagar pembatas dengan lincahnya. Lalu dengan cepat ia menghempaskan tubuhnya.
Namun gagal, anak itu tersangkut menggantung di tepi jembatan, tangan anak perempuan itu ditangkap sesuatu, oleh tangan sesosok makhluk, yang tak lain adalah gadis tempo hari, gadis misterius yang menggagalkan niat buruk seorang pemuda. Gadis itu kembali datang dengan penuh kemisteriusan.
“Lepaskan tanganku…” teriak anak perempuan itu, “lepaskan …”
“Kamu nggak boleh mati Dik, ayo naik…” ia mulai membujuk anak itu supaya lekas naik.
“Aku nggak mau hidup, aku mau mati, lepaskan tanganku…” anak itu menerjal-nerjal bahkan memukuli tangannya, supaya anak itu cepat meluncur dan menjemput kematiannya.
“Aku mohon Dik, naiklah!, kamu nggak boleh melakukan itu!” ia membujuk tanpa lelah.
“Lepaskan aku, lepaskan aku…,” anak itu mulai berteriak, namun tangan pucatnya semakin erat memeganginya, sampai-sampai urat di tangannya timbul, seumpama akar serabut. Lalu dengan sekuat tenaga si gadis itu mengangkat tubuh anak itu yang semakin gencar meronta-ronta.
Dan entah mengapa anak perempuan itu berhasil diselamatkan dan keduanya hanya mematung, gadis itu menatapnya dalam.
“Kenapa kamu lakukan itu…?” Ia membentak pada anak perempuan yang tengah menangis itu.
“Terserah aku mau ngapain,” anak itu balas membentak sembari masih sesenggukan, “kenapa kamu menghalangi aku?”
“Kamu nggak boleh mengubah takdir Tuhan. Kamu masih kecil, masih ada peluang untuk hidup lebih lama lagi. Jangan sia-siakan waktu. Biarkan dirimu lebih memaknai hidup ini.” Kata gadis itu dengan muka yang semakin menyeramkan.
“Aku udah nggak kuat lagi hidup, percuma aku hidup lebih lama lagi. Penyakitku semakin kronis, aku nggak pernah menemukan ujung, tak pernah sembuh tapi susah untuk mati.” Anak perempuan itu sedikt mencurahkan isi hatinya, dengan ratapan yang semakin deras.
“Aku ngerti, berdoalah dan bersabarlah, bukan bunuh diri seperti yang mau kamu lakukan tadi. Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Jangan kamu lakukan hal itu lagi ya …!”
Anak itu lama terdiam sampai akhirnya beranjak, berlari. Ketika anak itu pergi menjauh, gadis itu mulai memudar dan lenyap, menyatu dengan semilir angin. Dan kesunyian pun mulai menyergap lagi.
Lagi-lagi gadis misterius itu menyelamatkan nyawa.
Jembatan itu sering disebut Jembatan Kawung, karena banyak ditemui pohon enau. Merupakan penghubung antara Desa Sekar Alit dengan kampung Cibarihol, yang digunakan penduduk untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Tapi sejak kebakaran besar di Desa Sekar Alit, hampir semua penduduk tewas dan tak ada lagi yang mau singgah di tempat itu. Sampai akhirnya jembatan itu mulai diabaikan.
Jembatan Kawung terletak tak jauh dari rumah sakit kecil yang digunakan penduduk Kampung Cibarihol. Itu sebabnya kerap kali ada saja orang, juga merupakan pasien Rumah Sakit, yang mencoba bunuh diri, berputus asa karena penyakitnya.
Suasana di Jembatan Kawung selalu sepi karena hawa anker selalu menyengat. Pada pagi itu, atmosfer masih berselimut embun. Tak sedikit pun terlihat tanda-tanda adanya orang berputus asa (syukurlah). Tiba-tiba sesosok makhluk muncul, entah dari mana asalnya. Kemudian melayang rendah tanpa pijakan, semakin lama wajah sosok itu semakin jelas terlihat, ya, dia adalah gadis tempo hari.
Matanya menatap kekosongan, bibirnya putih nyaris menyatu dengan warna kulit wajahnya yang pucat pasi. Gadis itu cantik, tapi menyeramkan, namun dirinya berjiwa patriot. Telah menyelamatkan dua nyawa yang hendak bunuh diri, bahkan mungkin lebih banyak nyawa lagi.
Dia berhenti di tengah-tengah jembatan dan berhenti di tepi pagar pembatas, masih tanpa pijakan. Hatiku ingin sekali mengenalinya. Dan aku tergerak menghampirinya dari belakang. Karena diriku didera penasaran yang begitu mendalam padanya.
“Mau apa kamu kesini…?” Dia menyadari kehadiranku, namun tanpa menoleh, padahal aku datang nyaris tak menimbulkan bunyi.
“Aku bukan untuk bunuh diri…” ucapku lirih.
“Aku tahu itu, auramu beda, siapa kamu?”
“Aku Ardi, lantas siapa namamu?” kucoba agar tetap lembut padanya, karena aku rasa dia makhluk yang sensitif.
“Itu nggak penting buat kamu.” Dia masih menanggapiku dengan sombong, picik sekali dia tak mau beritahu namanya.
“Aku cuma ingin jadi temanmu Nona.”
“Namaku bukan Nona.” Setengah berteriak, lalu akhirnya dia berbalik badan ke arahku, kulihat wajahnya penuh luka.
“Maaf aku nggak bermaksud…”
“Sudahlah, aku memang makhluk sial, aku menyesal…” gadis tanpa nama itu menjerit lalu melompat ke bawah. Sontak kupegangi tangannya. Namun, tangannya serta tubuhnya hampa, mulai memudar dan lenyap.
Aku mencium bau bangkai, bau anyir darah yang membusuk, yaa… aku yakin ini bangkai manusia. Tiba-tiba kulihat beberapa orang bergegas naik dari jurang rendah bawah jembatan, mereka membawa sesosok mayat kaku berlumuran darah yang telah membeku, tampak di beberapa bagian tubuhnya bermunculan belatung. Dan itu membuat hidungku tidak bersahabat dengan hawa, karena bau busuk semakin menyengat.
Kulihat wajahnya hancur sekali, tetapi aku tetap dapat mengenalinya, ya… dia adalah gadis tanpa nama itu, aku menatapnya gemetar.
“Aku bunuh diri, aku melakukannya karena aku merasa aku tidak pantas lagi untuk hidup, kehidapnku terlalu hancur semenjak orangtuaku bercerai dan aku mengidap lupus menahun, tapi aku menyesalinya sekarang.” terdengar suara seseorang tepat di belakangku yang tak lain adalah gadis penuh misteri itu.
“Apa…?” aku terkaget-kaget mendengar ucapannya, kulihat dia hanya sesosok bayangan yang nyaris semu, tatapannya masih terlihat kosong.
“Aku tidak ingin orang lain merasakan hal yang serupa seperti aku,” dia menitikan air mata yang juga hanya bayang semu.
“Aku harap Tuhan memaafkanmu.” Kucoba memberinya semangat, aku tak tega melihatnya menangis.
“Nggak… nggak ada lagi maaf untukku. Tuhan akan memaafkanku jika aku masih hidup. Tetapi sekarang sudah terlambat.” kurasakan tangisannya semakin menyeruak.
“Aku akan tetap mendoakanmu supaya Tuhan bisa memaafkanmu.”
Dia tersenyum kecut. Seperti biasa dia mulai memudar, memudar hingga akhirnya menyatu dengan udara.
Jembatan Kawung, kau seakan-akan adalah pengaduan, tempat curahan hati, seorang psikiater. Seakan-akan kau adalah jalan menuju Tuhan.
Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Betapa menyesalnya dia.
Kini jembatan Kawung masih sepi, dan akan menjadi sejarah untuk masa depan, aku harap kau tak menyedot korban lebih banyak lagi. Maafkan aku karena aku tak bisa melakukan apapun untukmu, sungguh aku akan merindukanmu.
Ini mungkin waktunya, saatnya aku pergi. Kurasakan tubuhku mulai memudar. Aku tidak akan bunuh diri, karena buat apa…? Toh sekarang aku hanya bayang semu seperti gadis itu. Namun tubuhku kutinggalakan bersama kebakaran tragis Desa Sekar Alit.
Bukan Menjadi Korban Tragedi Bunuh Diri.